ANTIHISTAMIN II : Turunan Propilamin dan Fenotiazin

 A. Propilamin

        Ada beberapa jenis obat anti histamin dari antagonis H-1 turunan dari propilamin yaitu Chlorpheniramine Maleat yaitu obat yang banyak digunakan untuk mengatasi dari interaksi alergi dengan proses farmakodinamik dan farmakokinetiknya yaitu :

Chlorpheniramine Maleat ( CTM )

 











 

memiliki rumus molekul C16H19ClNdan memiliki bobot molekul 274,78 g/mol

Farmakodinamik

       Mekanisme kerja chlorpheniramine sebagai antagonis H1, adalah berkompetisi dengan aksi dari histamin endogenus, untuk menduduki reseptor normal H1 pada sel-sel efektor di traktus gastrointestinal, pembuluh darah, traktus respiratorius, dan beberapa otot polos lainnya. Efek antagonis terhadap histamin ini akan menyebabkan berkurangnya gejala bersin dan pilek pada pasien.

Chlorpheniramine maleat memiliki efek antikolinergik, dan sedatif ringan biasanya penggunaan ctm dapat menimbulkan rasa kantuk dan lemas

Diperkirakan bahwa mekanisme antihistamin obat ini, juga memiliki efek antiemetik, sickness, dan antivertigo, berhubungan dengan kerja obat dalam memengaruhi antikolinergik pusat.

Obat antagonis H1 klasik, dapat menstimulasi dan mendepresi susunan saraf pusat

Chlorpheniramine yang digunakan secara topikal, dapat meredakan pruritus.

Farmakokinetik 

   Farmakokinetik chlorpheniramine maleat adalah sebagai berikut:

  • Absorpsi

Obat chlorpheniramine diabsorpsi baik setelah konsumsi per oral. Bioavailabilitas obat sekitar 2550%. Konsentrasi puncak tercapai dalam waktu 2‒3 jam. Masa kerja obat adalah sekitar 46 jam. 

  • Metabolisme

Chlorpheniramine terutama dimetabolisme di hepar atau hati, melalui enzim sitokrom P450 (CYP450). Antihistamin H1 merupakan salah satu golongan obat yang menginduksi enzim mikrosomal hepatik, dan dapat memfasilitasi metabolismenya sendiri.

  • Distribusi

Sekitar 74% chlorpheniramine dalam plasma darah terikat protein.

  • Eliminasi

Waktu paruh obat dalam plasma darah, bervariasi sekitar 1215 jam, hingga mencapai 27 jam. Waktu paruh dapat berdurasi sekitar tiga kali lebih lama daripada efek terapeutiknya. Sebagian besar chlorpheniramine dikeluarkan oleh tubuh, melalui urine.

 

B. Fenotiazin

   Obat golongan ini memiliki efek antihistamin dan antikolinergik yangtidak begitu kuat, tetapi memiliki daya neuroleptik kuat sehinggadigunakan pada keadaan psikosis. Selain itu juga memiliki efek meredakan batuk, maka sering dipakai untuk kombinasi obat batuk. Antihistamingolongan ini antara lain prometazin, tiazinamidum, oksomemazin, dan metdilazin.
 
Prometazin 
  
 







 
memiliki rumus molekul C17H20N2S dengan farmakodinamik nya:

Farmakodinamik 
 
  1.Khasiat  
  •  Sebagai obat penenang. 
  • Untuk pra operasi obat penenang dan untuk mengatasi pasca narkotikamual. 
  • Sebagai antialergi obat untuk memerangi hay fever (alergi rhinitis),untuk mengobati reaksi alergi dapat diberikan sendiri atau dalamkombinasi dengan oral dekongestan seperti pseudoefedrin. 
  • Sebagai tambahan pengobatan untuk anaphylactoid kondisi (IM/IV ruteyang disukai). 
  • Bersama dengan kodein atau dekstrometorfan terhadap batuk. 
  • Sebagai mabuk atau mabuk laut ketika digunakan dengan obat efedrinatau pseudoefedrin. 
2.Kegunaan terapi
      Asma yang bersifat alergi, guna melawan bronchokonstriksi. Meskipunkerjanya baik namun efek totalnya ringan berhubung tidak berdayaterhadap mediator-mediator lain (SRS-A) yang juga mengakibatkan penciutan bronchi. Ada indikasi bahwa penggunaan sebagai inhalasimenghasilkan efek yang lebih baik. Beberapa obat dengan efekantikolinergik kuat dahulu sering digunakan, misalnya tiazinamium dandeptropin (Brontine, GB). Obat-obat baru ketotifen dan oksatomida berdaya mencegah degranulasi mastcells dan dikatakan efektif sebagai profilaktik serangan.
 
Farmakokinetik 


a.Mekanisme:
       Derivat Fenotiazin dengan efek anti dopaminergik: blocker reseptordopamin mesolimbik dan reseptor alfa-adrenergik di otak Efek antihistamin adalah blocker reseptor H1 
 
b.Absorpsi: 
      Bioavailabilitas: 25% (PO/PR)Onset (efek antihistamin): 3-5 menit (IV), 20 menit (IM/PO/PR)Puncak waktu serum: 6,7-8,6 jam (supositoria); 4,4 jam (sirup)Durasi: PO (motion sickness) 4-6 jam, iv (mual muntah) 4-6 jam,sampai 12 jam 
 
c.Distribusi: 
        Protein terikat: 89%-94%
        Vd: 98 L/kg (sirup), 17-227 L/kg   (kisaran) 
 
d.Metabolisme: 
        Dimetabolisme oleh P450 yaitu enzim hemeprotein yang berfungsi sebagai katalis oksidator pada lintasan metabolisme steroid dan obat, CYP2D6 yaitu enzim diekspresi pada sistem saraf pusat digunakan sebagai metabolisme dari xenobiotik dalam tubuh sekitar 25% dengan Waktu paruh: 10 jam (im), 9-16 jam (iv), 16-19 jam (sirup)Ekskresi: urin (utama), feses (minor) 
 
e. Waktu paruh:
      Setelah pemberian oral atau parenteral, AH1 diabsorpsi secara baik. Efeknya timbul 15-30 menit setelah pemberian oral dan maksimalsetelah 1-2 jam. Lama kerja AH1 setelah pemberian dosis tunggal kira-kira 4-6 jam 
 
f.Bioavailabilitas:
    Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa,ginjal, otak, otot dan kulit kadarnya lebih rendah. Tempat utama biotransformasi AH1 adalah hati, tetapi dapat juga pada paru-paru dan
ginjal. AH1 dieksresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya.
 
 
 
 
 Pertanyaan :
 
1. seorang pasien mengonsumsi CTM akibat tubuhnya mengalami reaksi alergi akibat dari memakan makanan laut dengan bersamaan pasien itu juga sedang menggunakan obat dextromethorphan HBr untuk mengobati batuk yang menyebabkan reaksi tremor yang di alami pasien setelah mengkonsumsi keduanya bagaimana mekanisme tersebut dapat terjadi?

2. CTM atau Chlorpheniramine Maleatmerupakan obat anti histamin yang akan mengurangi reaksi alergi pada tubuh, tetapi ada kasus dimana pasien yang menggunakan obat ctm ini malah menyebabkan reaksi alergi semakin meningkat kenapa hal tersebut dapat terjadi?

3. penggunaan obat golongan Fenotiazin dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan hiperpigmentasi pada kuit yang akan menyebabkan kulit menjadi gelap, kenpa hal tersebut dapat terjadi?

                                       

                                                                 DAFTAR PUSTAKA


Anugerah, Peter. 1992. Catatan kuliah farmakologi I. Palembang: Penerbit BukuKedokteran EGC. Hal 372
 
 Hoan, Tan. Rahardja, Kirana. 2002. Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan, danEfek-efek Sampingnya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Hal 78
 
 Katzung, B. 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. Jakarta: Penerbit BukuKedokteran EGC. Hal 224

Komentar

  1. Artikelnya sangat membantu, terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kepada saudari izki semoga ilmunya dapat di manfaatkan

      Hapus
  2. izin menjawab nmor 2 nih mungkin beberapa pasien Obat alergi dapat menimbulkan reaksi alergi juga pada beberapa orang.
    Pada kasus tertentu, alergi obat bahkan dapat menimbulkan reaksi parah seperti sesak napas, serangan asma, dan turunnya tekanan darah secara drastis. Cara terbaik mencegah reaksi ini adalah dengan mengenali obat alergi apa yang justru menjadi penyebabnya🙂

    BalasHapus
  3. terima kasih kepada saudari maya telah menjawab pertanyaan saya

    BalasHapus
  4. Halo Pran, artikelnya menarik sekali
    Saya jawab pertanyaan nomor 3 ya, Menurut Murlistyarini dan Hidayah (2019), fenotiazin merupakan salah satu yang dapat memperparah atau mempercepat melasma . Obat-obat yang ditimbun di lapisan dermis bagian atas dan secara kumulatif dapat merangsang melanogenesis yang menyebabkan timbulnya melasma. Melasma adalah hipermelanosis didapat, umumnya simetris, dapat berkonfluensi atau tersebar, berupa makula berwarna coklat muda hingga coklat tua mengenai area yang terpajan sinar ultraviolet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kepada saudari dian telah menjawab pertanyaan yang saya berikan

      Hapus
  5. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻

    BalasHapus
  6. Semangat terus wahai anak.mudaaaa

    BalasHapus

Posting Komentar